Bung Tomo & Pekikan Radio Pemberontakan dalam Pertempuran Surabaya 1945
Dibalik pertempuran sengit di jalanan Surabaya, pemancar radio rakitan di Jalan Mawar menjadi senjata psikologis paling dahsyat dalam memompa semangat para pemuda.
Siti Nurhaliza
Pagi hari tanggal 10 November 1945, Surabaya diselimuti asap tebal bom artileri sekutu. Pasukan Sekutu di bawah pimpinan Jenderal Mansergh mengultimatum rakyat Surabaya untuk menyerahkan senjata dengan mengangkat tangan. Namun, balasan yang mereka terima adalah perlawanan semesta dari seluruh lapisan masyarakat.
"Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih, maka selama itu tidak akan kita akan menyerah kepada siapapun juga! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!" — Bung Tomo, Siaran Radio Pemberontakan (RPR) 1945
Peran Strategis Radio Pemberontakan (RPR)
Sutomo atau Bung Tomo memahami bahwa perang kemerdekaan bukan hanya pertempuran amunisi di garis depan, melainkan perang narasi dan moril. Bersama kawan-kawan dari KRI (Komite Republik Indonesia), didirikanlah pemancar radio independen di Jalan Mawar No. 4 Surabaya.
Tentang Penulis
Siti Nurhaliza
Peneliti dan kontributor riset literasi sejarah Nusantara di SekelumitSejarah.com. Berfokus pada kajian naskah kuno, diplomasi maritim, dan strategi kemerdekaan.
Catatan Sejarah Terkait
Jejak Peradaban Majapahit & Strategi Sumpah Palapa Gajah Mada
Bagaimana sebuah ikrar politik di balairung kerajaan Trowulan berhasil menyatukan jalinan niaga dan pertahanan di kepulauan Nusantara abad ke-14?
Kebudayaan & RempahJalur Rempah Kepulauan Banda: Ketika Pohon Pala Mengubah Peta Geopolitik Dunia
Kisah segenggam buah pala dan bunga pala (mace) dari pulau kecil di Maluku yang pernah ditukar dengan Pulau Manhattan di Amerika Utara.
Arsip KolonialBenteng Vredeburg: Saksi Bisu Dinamika Kekuasaan VOC & Kesultanan Yogyakarta
Didirikan pada 1760 dengan nama Rustenburg (Benteng Peristirahatan), benteng ini dirancang Belanda untuk mengawasi setiap pergerakan Keraton Ngayogyakarta.
Ruang Diskusi & Tanggapan
Belum ada tanggapan untuk artikel ini. Jadilah pembaca pertama yang memberi ulasan.